Ketika Cicak Bunuh Diri (Part 3)

Bla….bla…bla…. Lia cerita ke Isil langsung deh kita berdua sepakat untuk menurunkan si Cicak…. Bagaikan pasangan Mario dan Luigi kita berdua bahu membahu memikul tangga yang beratnya minta ampyun….

Dengan cekatan Isil mengambil sehelai Koran sebagai tempat pendaratan, dihamparkan layaknya permadani sutra yang siap menyambut kehadiran cicak, laksana red carpet yang digelar saat artis popular turun dari pesawat. Beugh mantabz dah…..

Kita beralih ke Lia……masih dengan jejeritan sumbang Lia mengatur posisi tangga agar tepat untuk menggapai buntut cicak akan tetapi juga saat si cicak terjun bebas tubuh sang Cicak tidak nyangkut ke Lia.

Tanpa melihat ke atas, Lia menaiki tangga satu persatu. Semakin keatas bau badan si Cicak makin semerbak…..Busyet dah nie cicak belom mandi berapa tahun yak… Mata Lia semakin memerah, hidung mulai mengeluarkan air, alis berkerut, pita suara dan tenggorokan terus mengeluarkan gelombang suara jeritan yang beresonansi dengan kepakan sayap lalat, kerongkongan sengaja digembok agar usaha menahan hasrat ingin muntah tidak terlaksana.

Setelah 5 anak tangga terlampaui, akhirnya Lia sampai juga di puncak gunung tangga….dengan perlahan Lia membuka mata dan memandang dari balik bahu dengan sangat hati-hati… Awwww…..pemandangan itu begitu mengerikan melihat Cicak yang nyungsep didalam bola lampu berjuntai bebas dikelilingi oleh lalat-lalat dan hanya ekor yang terlihat. Apakah cicak itu masih memiliki kepala atau tidak siapa yang tahu. Can You Imagine It???

Misi pertama : melepaskan Cicak dari jeratan

Misi Kedua : menguburkan cicak

Misi Ketiga : membubarkan upacara adat suku Musca domestica (lalat rumah ato housefly)

Misi Keempat : Membersihkan seluruh jejak lalat dan segala peralatan upacaranya

Misi Pertama

Untuk ngelepasin si cicak malang, hal yang harus dilakukan adalah memutar-mutar bola lampu agar cicak yang lengket itu lepas dari tempatnya menclok sekarang.

Sebenarnya gampang banget cuma Lia muter lampunya sambil ngebayangin si cicak lupa ma tempat landasan yang udah disiapin dan malah menclok ke Lia, atau

si Cicak bangun dari mati surinya terus jet lag dan nyari tempat menclok, eh menclok di Lia…(ck..ck.. khayalan tingkat tinggi)

Nah dengan tangan tangan gemetar dan keringat dingin Lia mencoba memutar bohlam setiap dapet satu putaran Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa….. Lia tereak karena serem si cicak jatuh, terus muter lagi Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa tereak lagi…dan sampe 10 puteran tuh cicak belom jatoh juga. Dan pada putaran ke-11 jatuhlah si cicak dengan suara berdebum….beserta rangka dari bohlam itu tepat pada landasan yang telah disediakan.

Yang menjijaykan banyak bertebaran fosil-fosil bangkai hewan lain bertaburan bersama jatuhnya sang cicak. Hiiiiii……Benar-benar seperti pembunuhan massal yang dilakukan oleh lampu.

Oh Lampu cahayamu begitu menggoda

Daya tarik untuk setiap makhluk langit-langit rumah

Melayangkan angan, memunculkan fatamorgana

Weits……..STOP…STOP…apaan sih????

Misi Kedua : Penguburan

Lia dengan perasaaan yang teramat jijay melakukan autopsi pada si Cicak….ck..ck.. ternyata ada bekas luka bakar di lingkar perutnya. Dan yang aneh luka bakar itu berwarna biru, warna yang tidak wajar yang ditimbulkan oleh panasnya bohlam… Dan kesimpulannya Cicak itu…..

……………………………….

……………………………….

Hmmmm apa yah………….

Gak tau ah…………..

Pokoknya abis itu Lia bungkus si cicak dengan kertas koran dan dengan tersenyum lega, Lia lempar ke tempat sampah…. Cara penguburan yang sangat praktis…

Misi ketiga : melanjutkan peperangan dengan lalat seperti di Part 1

Misi Keempat : bersih-bersih kamar total layaknya Inem Pembantu Seksi

T A M A T

1 Komentar

  1. wew….. :D
    Upacara adat yang cukup menegangkan… wahahahha…
    Dari cara Lia mengutarakan isi cerita, kayaknya cocok jadi penulis neh….
    hehehe….

    soalnya bisa bikin orang nyimak isi tulisan….


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar